Zakaria sudah uzur, istrinya juga mandul. Tapi mereka tak putus asa berdoa. Allah akhirnya mengabulkan doa mereka

Seorang perempuan yang sudah dua tahun berumah tangga mengungkapkan kesedihan hatinya. Ia gundah lantaran belum juga ada tanda-tanda akan punya momongan. Termasuk yang membuat dirinya kerap merasa tidak nyaman adalah lontaran pertanyaan dan pernyataan dari orang-orang sekitar yang sering terasa menusuk hati. Memikirkan semua itu, perempuan muda ini hanya bisa menangis, sedih, dan pilu.

Siapa pun perempuan, ketika mengalami masa penantian yang panjang seperti ini, pasti memiliki sensitivitas bila ada orang yang menyinggungnya. Memang hanya pertanyaan, tapi itu sebenarnya tidaklah menyenangkan. Pun dengan saya yang telah merasakan betapa tidak nyamannya menantikan masa-masa indah itu.

Setelah menikah, tentu saja setiap pasangan tidak akan menunda untuk segera mempunyai momongan. Sebab kehadiran buah cinta bagi pasangan suami istri dianggap sebagai prestise di mata orang. Ia adalah kelengkapan kebahagiaan setelah mengarungi bahtera rumah tangga. Juga kebahagiaan untuk sanak saudara dan famili kita.

Banyak pasangan hari ini yang mungkin sedang resah menunggu datangnya kehamilan. Pertanyaan seperti ini tentu sering muncul: sudah isi belum? Kapan, nih nyusul? Sudah ada calon generasi kah? Kok belum hamil-hamil? Sebagai perempuan yang pernah mengalami masa penantian seperti ini, saya akui bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang sering membuat diri sangat tidak nyaman, tidak kuat, kadang bikin sewot, dan menohok di hati.

Allah Maha Berkehendak

Lantas, apa yang harus dilakukan pasangan suami istri yang tak kunjung dianugerahi anak? Pertama, berpikir postif kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,. Allah Maha Tahu atas segala keinginan dan kebutuhan kita. Apa yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan di mata Allah. Yang harus dipahami bahwa keinginan kita sangatlah banyak dan tidak ada batasnya, sedangkan apa yang kita butuhkan sebenarnya hanya Allah-lah yang tahu.

Jika Allah belum mengaruniakan anak kepada kita, barangkali karena Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) melihat kita belum butuh dengan itu. Semua telah diatur oleh-Nya. Kita cukup berusaha sebaik-baiknya sedangkan hasilnya kita serahkan kepada-Nya.

Kedua, tanamkan percaya diri dan keyakinan bahwa saatnya nanti pasti hamil juga. Bagi seorang lelaki (suami), tidak bisa dipungkiri, keadaan yang demikian itu bisa saja membuat diri menjadi tidak percaya diri, merasa akan dipandang orang lain, maaf, tidak jantan. Kondisi seperti ini bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan. Yakin saja bahwa memang belum saatnya untuk memiliki momongan. Allah masih menunda untuk menguji kesabaran kita sebelum kita benar-benar mempunyai keturunan.

Ketiga, nikmatilah. Mungkin kita akan berpikir, kenapa kok tidak hamil-hamil juga, padahal datang bulan lancar. Nah, para pasangan yang mungkin sudah berbulan-bulan atau bertahun-tahun menanti kehamilan, nikmatilah kesempatan ini. Nikmati saat-saat berdua dengan pasangan, Allah memberikan kita kesempatan untuk bisa menikmati saat-saat berdua tersebut.

Teladan Keluarga Nabi Zakaria

Adalah Nabi Zakaria ‘Alaihisalam, seorang bapak yang hingga masa tuanya belum juga mendapatkan anak. Sementara istrinya seseorang perempuan tua yang belum melahirkan seseorang pun dalam hidupnya, karena ia wanita mandul.

Pada usia tuanya itu Nabi Zakaria menjadi semakin khawatir. Sebab belum ada generasi yang diharapkan yang melanjutkan risalah suci yang ia emban. Zakaria selalu berdoa agar dikaruniakan seorang anak laki-laki yang dapat mewarisi ilmunya dan menjadi pelanjut risalah tauhid.

Dalam usahanya itu, Zakaria tidak menyampaikan keinginannya tersebut kepada orang banyak, bahkan kepada istrinya, tetapi ia hanya mengadukannya kepada Allah. Hingga pada suatu pagi Zakaria mendapati Maryam di mihrabnya lengkap dengan buah-buahan yang sedang tidak musim ketika itu. Kejadian ini diabadikan di dalam al-Qur’an.

“Zakaria berkata: ‘Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab: ‘Makanan itu dari sisi Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.’ ” (Ali ‘Imran [3]: 37-38)

Dari peristiwa tersebut, Zakaria semakin yakin Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu, termasuk masalah keturunan yang terus ia munajatkan kepada-Nya. Kondisi fisik Zakaria kala itu sudah tua renta, rambutnya sudah memutih, tulangnya tak sanggup lagi menopang tubuh. Sementara istrinya sendiri adalah wanita mandul yang tak mungkin lagi punya anak. Tapi Zakaria tetap optimis. Ia tidak berputus asa dengan keadaannya yang begitu rupa. (lihat Maryam [19]: 2-6).

Hingga pada akhirnya Allah pun mendengar doa panjang yang dilafazkan Zakaria. Zakaria semakin takjub atas kehendak Allah memberikannya anak, dalam kondisi dirinya yang sudah tua dan istrinya pun wanita yang mandul.

“Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” (Maryam [19]:9)

Pasangan yang sedang menanti kehamilan, marilah kita menyelami kisah tentang Nabi Zakaria ini. Tentang kesabarannya selama bertahun-tahun menanti kehadiran generasi penerus dan kemudian Allah menjawab doa panjang itu. Itulah dahsyatnya kekuatan kesabaran, doa, dan keyakinan.

Saling Menguatkan

Tentu saja pasangan yang sedang menanti kehamilan membutuhkan motivasi dari orang sekitarnya. Sebaiknya sesama Muslim saling menguatkan satu sama lain. Jangan sampai kita melontarkan pertanyaan atau perkataan yang bisa membuat saudara kita yang sedang menunggu kehamilan bersedih.

Karena itu ada baiknya kita menghindari pertanyaan-pertanyaan yang “memojokkan,” meski itu semata-mata iseng. Akan sangat elok jika kita memberikan motivasi dan menguatkannnya dengan ucapan yang baik, berbicara dari hati ke hati, siapa tahu ada problem lain yang enggan diutarakan.

Selanjutnya, kita menawarkan solusi. Sikap kita terhadap saudara kita yang sedang menunggu kehamilan adalah memberikan solusi. Jadikan ia nyaman ketika ia berada di sekitar kita. Jangan sampai keberadaan kita menjadi momok yang menakutkan bagi mereka karena kata-kata kita yang kerap menyindir yang mungkin tidak kita sadari.

Karena bisa saja ia jadi takut dan tidak nyaman berada dekat kita lantaran khawatir dengan pernyataan atau pertanyaan yang keluar dari mulut kita yang lebih banyak iseng, tanpa memberikan solusi atau motivasi. Kita sesama Muslim adalah bagaikan sebuah bangunan. Saling menguatkan, karena bahagia kita adalah bahagia saudara kita juga. Salinglah memberi dukungan dan motivasi, juga mendoakan.

(Sumber: SUARA HIDAYAH oleh Fiqih Ulyana)